Jumat, 07 April 2017

Wae Rebo, Desa Unik di Pedalaman Manggarai

Provinsi Nusa Tenggara Timur adalah surga dunia yang dimiliki Indonesia. Dari lautan, terdapat berbagai pulau dengan pantai dan alam bawah laut yang indah. Di daratan, hamparan padang rumput dan kearifan masyarakatnya akan selalu membuat traveler betah. Di provinsi ini pula berdiri dengan kokoh gunung Tambora yang pernah meletus dahsyat dan membuat dunia gelap selama setahun.


Belum cukup sampai disitu, provinsi Nusa Tenggara Timur juga memiliki desa yang unik, arif, berbudaya, dan alami di balik pedalaman kabupaten Manggarai, Flores. Desa itu bernama Wae Rebo, sebuah desa warisan leluhur yang masih berdiri kokoh hingga generasi ke-19.


Desa yang terletak di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini bukan sekedar berdiri hingga sekarang. Masyarakat setempat pun masih teguh mempertahankan adat yang diwariskan para leluhurnya. Inilah yang membuat UNESCO tertarik untuk memberikan desa Wae Rebo gelar Award of Excellence pada acara UNESCO Asia Pasific Award pada tahun 2012 di Bangkok.

Warisan yang dimaksud adalah rumah khas desa tersebut yang bernama Mbaru Niang. Rumah adat yang juga menjadi tempat tinggal penduduk setempat yang berbentuk kerucut ini sejak dulu hanya berjumlah 7 unit. Jumlah ini tidak boleh bertambah meskipun populasi penduduk di sana meningkat.

Jika ada keluarga yang memiliki anggota lebih dari daya tampung ketujuh rumah tersebut, maka anggota keluarga tersebut harus rela meninggalkan desa untuk hidup di desa terdekat seperti desa Kombo. Saking banyaknya penduduk Wae Rebo yang pindah ke dasa ini, Kombo pun Nampak seperti Waerebo yang ke dua. Selain itu, banyak anak Wae Rebo yang menuntut ilmu di desa Kombo.
Ketujuh rumah yang ada di Wae Rebo bukan hanya tidak boleh bertambah, tapi sekaligus tidak pernah berkurang. Jika ada satu rumah yang rusak, maka seluruh penduduk pun akan berbondong-bondong memperbaikinya. Para lelaki mengurusi bagian yang berat, para wanita akan membantu menyiapkan konsumsi, sedangkan anak-anak tetap bermain sambil melihat orang dewasa bergotong-royong. Penduduk di Wae Rebo memang hidup secara harmonis. Bahkan dalam satu rumah bisa dihuni sekitar 6-8 kepala keluarga.

Rumah ini berukuran cukup besar dan tingginya mencapai 5 lantai. Saking besarnya, Mbaru Niang bukan hanya mampu menopang banyak keluarga, tapi sekaligus menjadi tempat penyimpanan keperluan sehari-hari sampai kebutuhan ritual.

Tiap lantai, memiliki sebutan dan fungsi yang berbeda-beda. Lantai pertama yang disebut Luntur adalah tempat yang digunakan sebagai tempat tinggal penghuninya. Lantai dua atau Lobo berfungsi sebagai tempat penyimpanan barang dan bahan makanan. Lantai tiga yang disebut Lentar, digunakan untuk menyimpan benih tanaman. Lantai empat atau Lempa Rae dipakai untuk menyimpan cadangan makanan jika terjadi gagal panen atau hal lain yang bisa mengikis persedian makanan penduduk Wae Rebo. Sedangkan lantai lima ataiu Hekang Kode merupakan tempat penyimpanan sesajen sebagai persembahan untuk para leluhur desa Wae Rebo.

Penduduk setempat bukan cuma hidup secara harmonis dan taat pada adat, mereka juga pekerja keras yang tidak berpangku tangan pada orang lain. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, penduduk Wae Rebo terbiasa bercocok tanam dengan kopi sebagai produk utamanya. Para wanita dewasa pun rajin menenun kain Sangke untuk dijual kepada orang luar.

Masyarakat Wae Rebo pun tergolong sangat ramah kepada para wisatawan yang datang. Mereka sering menganggap wisatawan sebagai saudara jauh yang sedang pulang kampong. Bahkan, banyak wisatawan yang sengaja diberi ritual bernama Pa’u Wae Lu’u saat pertama kali berkunjung. Tujuannya adalah untuk memohon ijin dan meminta perlindungan kepada leluhur mereka agar wisatawan selalu diberikan keselamatan selama berada di Wae Rebo hingga kembali ke tempat asal.

Meskipun sudah ada sejak 19 generasi yang lalu, desa Wae Rebo baru banyak dikenal oleh masyrakat luas sejak beberapa tahun lalu. Semua berawal ketika seorang arsitek bernama Yori Antar berkunjung kesana karena penasaran dengan desa yang sebelumnya terpampang dalam kartu pos itu. Yori pun membangikan pangalamannya di Wae Rebo ke banyak orang sampai akhirnya mulai banyak wisatawan yang datang berkunjung baik dari dalam maupun luar negeri. Yori juga pernah memberikan kontribusinya terhadap kelestarian rumah Mbaru Niang. Yori bersama Yayasan Rumah Asuh berhasil meyakinkan beberapa pihak swasta dan pemerintah untuk menggelontarkan dana guna pelestarian Mbaru Niang.

Sebelum berangkat menuju Wae Rebo, pastikan kamu menyiapkan kondisi fisik sebaik mungkin. Ini karena perjalanan yang harus kamu lalui  untuk mencapai desa ini tidaklah mudah. Pertama, beli tiket pesawat menuju Labuan Bajo lalu ke Ruteng sebelum akhirnya menempuh perjalanan darat yang melelahkan ke desa Dintor atau Denge. Desa ini adalah titik terakhir dimana kendaraan bisa mengantar kamu. Selanjutnya, kamu harus berjalan kaki selama 4 jam dengan mendaki bukit dan melewati lembah menuju Wae Rebo. FYI, waktu terbaik untuk memulai perjalanan dari desa Dintor atau Denge menuju Wae Rebo adalah saat pagi hari ketika udara masih sejuk. Kalau kamu sampai di desa Dintor atau Denge terlalu malam, menginaplah terlebih dahulu di homestay yang tersedia disana.

Untuk mendapat tiket penerbangan dengan harga terbaik menuju Labuan Bajo, kamu bisa mencari tiket pesawat promo di Reservasi.com. Di sini, kamu akan menemukan banyak penerbangan yang bisa membawamu ke Labuan Bajo dan tempat-tempat indah lainnya di Indonesia dengan harga terbaik.

Well, have a nice trip, guys!

Share this

0 Comment to " Wae Rebo, Desa Unik di Pedalaman Manggarai "

Posting Komentar